PUISI
Sabtu, 23 Desember 2017
Jumat, 08 Desember 2017
Puisi Desa
CERITA TENTANG DESAKU
Karya: Diki Ramadhan
Semilir angin bicara
Disini aku bermain
Bersama lautan, ombak, juga arus sungai batang hari
Berenang bersama anak-anak penuh ingus
Kapal
Perahu
Melintas membawa ikan hasil nelayan
Inilah desaku; Tuan
Siapa berani menyelam
Sampai risan jenang
Yakinlah bukan sebuah khayalan
Sebab, desaku dan semilir angin waktu itu adalah aku dan rindu
Talang Balai, 4-12-2017
Karya: Diki Ramadhan
Semilir angin bicara
Disini aku bermain
Bersama lautan, ombak, juga arus sungai batang hari
Berenang bersama anak-anak penuh ingus
Kapal
Perahu
Melintas membawa ikan hasil nelayan
Inilah desaku; Tuan
Siapa berani menyelam
Sampai risan jenang
Yakinlah bukan sebuah khayalan
Sebab, desaku dan semilir angin waktu itu adalah aku dan rindu
Talang Balai, 4-12-2017
Selasa, 22 Agustus 2017
Jumat, 11 Agustus 2017
Puisi Menunggu Senja
MENUNGGU SENJA
Karya: Diki Ramadhan
Sembari ku menunggu senja
Sesekali aku merasa senang
Selaksa nirwana dalam pelupuk matamu
Kujadikan ia sebagai pelita hidupku
Talang Balai, 8 Agustus 2017
Karya: Diki Ramadhan
Sembari ku menunggu senja
Sesekali aku merasa senang
Selaksa nirwana dalam pelupuk matamu
Kujadikan ia sebagai pelita hidupku
Talang Balai, 8 Agustus 2017
Sabtu, 05 Agustus 2017
Puisi Tema Trauma
DERITA DI ATAS TRAUMA
Karya: Diki Ramadhan
Trauma menerpa jiwa
Ibarat kata,hilang tanpa arah
Aku bersendu di atas derita
Tatkala ku terima trauma
Ribuan kalinya
Jiwa ini di terpa trauma
Hatipum bertanya-nya
Apa yang membuat jiwa hilang tanpa arah?
Tersebutlah alasannya
Aku tersakiti ribuan kali
Hingga aku tak sanggup lagi
Tuk menerima derita di atas trauma ini
Talang Balai, 5 Agustus 2017
Karya: Diki Ramadhan
Trauma menerpa jiwa
Ibarat kata,hilang tanpa arah
Aku bersendu di atas derita
Tatkala ku terima trauma
Ribuan kalinya
Jiwa ini di terpa trauma
Hatipum bertanya-nya
Apa yang membuat jiwa hilang tanpa arah?
Tersebutlah alasannya
Aku tersakiti ribuan kali
Hingga aku tak sanggup lagi
Tuk menerima derita di atas trauma ini
Talang Balai, 5 Agustus 2017
Senin, 31 Juli 2017
Puisi Tema "Musik"
MUSIK
Karya: Diki Ramadhan
Kunci-kunci gitar bermelodi indah
Meredam rasa gundah gulana
Tuts-tuts piano bermelodi jua
Menghasilkan suara yang indah
Musik itu seperti evokasi
Eufoni musik bersatu
Menghasilkan melodi lagu
Syair yang dinyanyikan itulah musik
Hati ini gundah gulana,Jiwa ku sepi dan senja
Di kala itu musik bak penghibur hati
Anganku melayang
Di kala musik hilang
Hati ini merasa hampa di kala musik tiada
Jiwa ini halu tatkala musik ku rapuh
Raga ini gila di kala musik ku runtuh
Pada saat itu musik klasik kumainkan juga
Talang Balai, 17 Juli 2017
Karya: Diki Ramadhan
Kunci-kunci gitar bermelodi indah
Meredam rasa gundah gulana
Tuts-tuts piano bermelodi jua
Menghasilkan suara yang indah
Musik itu seperti evokasi
Eufoni musik bersatu
Menghasilkan melodi lagu
Syair yang dinyanyikan itulah musik
Hati ini gundah gulana,Jiwa ku sepi dan senja
Di kala itu musik bak penghibur hati
Anganku melayang
Di kala musik hilang
Hati ini merasa hampa di kala musik tiada
Jiwa ini halu tatkala musik ku rapuh
Raga ini gila di kala musik ku runtuh
Pada saat itu musik klasik kumainkan juga
Talang Balai, 17 Juli 2017
Puisi Cinta "AKROSTIK"
I LOVE YOU
Karya: Diki Ramadhan
Ikrar suci yang terucap
Laksana embun di pagi hari
Omongannya mengucap suci
Valentine yang sebenarnya ia rasakan
Egonya seakan penuh dengan harapan
Yuwana dirinya bak nirwana
Ooohh,,alangkah indah dirinya
Ucapan hati,aku cinta dirinya
Talang Balai, 28 Juli 2017
Karya: Diki Ramadhan
Ikrar suci yang terucap
Laksana embun di pagi hari
Omongannya mengucap suci
Valentine yang sebenarnya ia rasakan
Egonya seakan penuh dengan harapan
Yuwana dirinya bak nirwana
Ooohh,,alangkah indah dirinya
Ucapan hati,aku cinta dirinya
Talang Balai, 28 Juli 2017
Minggu, 30 Juli 2017
Puisi Cinta
SINDIRAN HATI
Karya: Diki Ramadhan
Langit cintaku seakan runtuh
Dikala bidadariku sedang jatuh
Ingin kupeluk raganya
Dan mengharap cintanya
Maafkan aku
Ku tak sadar bahwa kau cinta aku
Dikala itu hati ini bersedih
Dan awanpun menjadi saksi
Talang Balai, 24 Juli 2017
Karya: Diki Ramadhan
Langit cintaku seakan runtuh
Dikala bidadariku sedang jatuh
Ingin kupeluk raganya
Dan mengharap cintanya
Maafkan aku
Ku tak sadar bahwa kau cinta aku
Dikala itu hati ini bersedih
Dan awanpun menjadi saksi
Talang Balai, 24 Juli 2017
Puisi tema Penggemar Rahasia
TERSIMPAN RAHASIA
Karya: Diki Ramadhan
Gugur daun di dada bumi
Kelam kian memanggil malam hari
Namun ia kekal dalam hati
Dirimu tak pernah tau asa sanubari hati ini
Meronta tanpa bisa berkata
Hati ini merasa hampa
Jika kuingat wajahmu yang manja
Maafkanlah hati ini
Tak bisa mengungkapkan padamu
Bahwa diriku penggemar rahasiamu
Talang Balai, 4 Juli 2017
Karya: Diki Ramadhan
Gugur daun di dada bumi
Kelam kian memanggil malam hari
Namun ia kekal dalam hati
Dirimu tak pernah tau asa sanubari hati ini
Meronta tanpa bisa berkata
Hati ini merasa hampa
Jika kuingat wajahmu yang manja
Maafkanlah hati ini
Tak bisa mengungkapkan padamu
Bahwa diriku penggemar rahasiamu
Talang Balai, 4 Juli 2017
Puisi "AKAR"
AKAR
Karya: wnt_tyas
Aku terinjak
Aku tahan isak
Aku tak berontak
Aku bagai akar
Menjalar tak berikrar
Demi;menopang tubuhmu
Agar tak runtuh
Bawah tanah, 8 Januari 2015
Karya: wnt_tyas
Aku terinjak
Aku tahan isak
Aku tak berontak
Aku bagai akar
Menjalar tak berikrar
Demi;menopang tubuhmu
Agar tak runtuh
Bawah tanah, 8 Januari 2015
Sabtu, 29 Juli 2017
Sekilas kota Palembang
PALEMBANG(KOTA IDAMAN)
Karya: Diki Ramadhan
Gemerlap malam,
Menutupi kota wong kito
Perlahan,
Kaki ini menapak di ampera
Sesekali ku lihat sungai musi
Kaki ini pergi ke hulu
Mencari pasar cinde yang terkenal itu
Tangan ini pergi ke hilir
Mencari pempek dan cukonya yang terkenal itu
Tubuh ku sandarkan pada tembok benteng kuto besak
Kaki ini menanjak anak tangga
Yang berada di pulau kemaro
Terbesit di hatiku
Palembang kota idamanku
Dimana,jingga disana
Seperti jembatan ampera
Talang Balai, 30 Juli 2017
Karya: Diki Ramadhan
Gemerlap malam,
Menutupi kota wong kito
Perlahan,
Kaki ini menapak di ampera
Sesekali ku lihat sungai musi
Kaki ini pergi ke hulu
Mencari pasar cinde yang terkenal itu
Tangan ini pergi ke hilir
Mencari pempek dan cukonya yang terkenal itu
Tubuh ku sandarkan pada tembok benteng kuto besak
Kaki ini menanjak anak tangga
Yang berada di pulau kemaro
Terbesit di hatiku
Palembang kota idamanku
Dimana,jingga disana
Seperti jembatan ampera
Talang Balai, 30 Juli 2017
Potret kota Yogyakarta
SECARIK RINDU DI JANTUNG YOGYAKARTA
Karya: wnt_tyas
Senja menuntun menapaki jejak Hadiningrat
nampak asri, pada kerling lampu kota
di sudut Malioboro, lindap berbincang
dengan riuh ramainya petang.
Yogya, aku jatuh hati padamu setelah
kau suguhkan angkringan, gudeg, juga Sayidan
pada pesta perjamuan temu kita.
Ada angklung diam membisu, di lampu merah
ada resah menyalang pasrah
ada engkau, juga aku pada lirik lagu yang berjudul biru.
Maka—
sebelum hilang punggungku dari pandangmu,
izinkan kepadaku untuk menitipkan secarik rindu
pada epitaf yang kusebut jantung
lalu, menamaimu sebagai rindu paling kecup.
Selamat tinggal, Yogya-- lambaiku untuk kembali
menjemput debar yang menggebu.
Gunungkidul, 6 Juni 2017.
Karya: wnt_tyas
Senja menuntun menapaki jejak Hadiningrat
nampak asri, pada kerling lampu kota
di sudut Malioboro, lindap berbincang
dengan riuh ramainya petang.
Yogya, aku jatuh hati padamu setelah
kau suguhkan angkringan, gudeg, juga Sayidan
pada pesta perjamuan temu kita.
Ada angklung diam membisu, di lampu merah
ada resah menyalang pasrah
ada engkau, juga aku pada lirik lagu yang berjudul biru.
Maka—
sebelum hilang punggungku dari pandangmu,
izinkan kepadaku untuk menitipkan secarik rindu
pada epitaf yang kusebut jantung
lalu, menamaimu sebagai rindu paling kecup.
Selamat tinggal, Yogya-- lambaiku untuk kembali
menjemput debar yang menggebu.
Gunungkidul, 6 Juni 2017.
Puisi akrostik
NAFA ERWANDA
Karya: Diki Ramadhan
Niat tulus tuk banggakan orang tua
Asa itu menjadi motivasi baginya
Fajar yang menyelimuti perjuangannya
Akankah di raih olehnya
Elok pandangan,besar impian
Raut wajahnya bak kobaran si jago merah
Angannya tuk banggakan pelita hidupnya
Nirwana dalam semangat hidupnya
Daksanya bak aliran air
Alangkah besar cita-citanya,yaitu banggakan keluarga
Talang Balai, 29 Juli 2017
Karya: Diki Ramadhan
Niat tulus tuk banggakan orang tua
Asa itu menjadi motivasi baginya
Fajar yang menyelimuti perjuangannya
Akankah di raih olehnya
Elok pandangan,besar impian
Raut wajahnya bak kobaran si jago merah
Angannya tuk banggakan pelita hidupnya
Nirwana dalam semangat hidupnya
Daksanya bak aliran air
Alangkah besar cita-citanya,yaitu banggakan keluarga
Talang Balai, 29 Juli 2017
Puisi Perpisahan untuk Guru
PATRIOT PEMBAWA ILMU
Karya: Diki Ramadhan
Dalam serpihan kapur
Terbawa lamunan nan jauh ke sukma
Jauh ku arungi arti dari sebuah perpisahan dalam butiran doa
Denyut nadi ini tak bisa berhenti
Mengingat guru bagai patriot sejati
Coretan-coretan kapur,
Memberikan kami sebuah ilmu
Guru,
Hati ini akan mengingatmu sampai hari tuamu
Selamat berpisah guru
Perpisahan ini bukanlah akhir
Melainkan sebuah awal
Awal untuk kami membuka lembaran baru
Terima kasih guru
Semoga waktu berkenan mempertemukan kita kembali
Talang Balai, 3 Juli 2017
Karya: Diki Ramadhan
Dalam serpihan kapur
Terbawa lamunan nan jauh ke sukma
Jauh ku arungi arti dari sebuah perpisahan dalam butiran doa
Denyut nadi ini tak bisa berhenti
Mengingat guru bagai patriot sejati
Coretan-coretan kapur,
Memberikan kami sebuah ilmu
Guru,
Hati ini akan mengingatmu sampai hari tuamu
Selamat berpisah guru
Perpisahan ini bukanlah akhir
Melainkan sebuah awal
Awal untuk kami membuka lembaran baru
Terima kasih guru
Semoga waktu berkenan mempertemukan kita kembali
Talang Balai, 3 Juli 2017
Puisi Rindu
RINDU IBU
Karya: Diki Ramadhan
Di tanah seberang aku bertandang
Menerawang jauh ke kampung halaman
Ada secarik kerinduan tertinggal
Pada sebuah gubuk sederhana aku bermuasal
Malam-malam bisu ku jadikan teman
Ketika aku berada di perantauan
Angan melayang,jiwa tak tenang
Teringat akan sosok ibu tersayang
Aku seperti berlayar diatas lautan
Terombang-ambing tanpa tujuan
Melawan riuh gelombang kerinduan
Menerjang kelu sebab kesendirian
Ibu,aku ingin pulang
Mencium punggung tanganmu
Memeluk erat-erat tubuhmu
Bermanja curahkan segala rindu
Sampai aku lelap
Karya: Diki Ramadhan
Di tanah seberang aku bertandang
Menerawang jauh ke kampung halaman
Ada secarik kerinduan tertinggal
Pada sebuah gubuk sederhana aku bermuasal
Malam-malam bisu ku jadikan teman
Ketika aku berada di perantauan
Angan melayang,jiwa tak tenang
Teringat akan sosok ibu tersayang
Aku seperti berlayar diatas lautan
Terombang-ambing tanpa tujuan
Melawan riuh gelombang kerinduan
Menerjang kelu sebab kesendirian
Ibu,aku ingin pulang
Mencium punggung tanganmu
Memeluk erat-erat tubuhmu
Bermanja curahkan segala rindu
Sampai aku lelap
Puisi Nasehat
NERAKA SETARA MATA
Karya: Diki Ramadhan
Ku lihat mereka
Terlihat telanjang
Sesekali menderang
Menahan kelu sebab kelengahan
Rasa panas membakar jiwa
Tatkala kulihat mereka
Mereka yang berada di atas angan-angan kerugian
Neraka yang mereka lihat bak setetes air di atas api
Sengsara
Kulihat kesengsaraan di wajah pendosa
Hati ini menangis,Jiwa ini bersedih
Raga berkata,Terlambatlah dirimu
Neraka berada di matamu
Talang Balai, 21 Juli 2017
Karya: Diki Ramadhan
Ku lihat mereka
Terlihat telanjang
Sesekali menderang
Menahan kelu sebab kelengahan
Rasa panas membakar jiwa
Tatkala kulihat mereka
Mereka yang berada di atas angan-angan kerugian
Neraka yang mereka lihat bak setetes air di atas api
Sengsara
Kulihat kesengsaraan di wajah pendosa
Hati ini menangis,Jiwa ini bersedih
Raga berkata,Terlambatlah dirimu
Neraka berada di matamu
Talang Balai, 21 Juli 2017
Puisi untuk sahabat
LURUH PANDANGNYA
Karya: Diki Ramadhan
Keikhlasan menjelma di hatinya
Kesabaran yang ia lakukan
Kegigihan tiada habisnya,Dalam hidupnya
Bak nirwana dalam cahaya
Dirinya bak busur arjuna
Melepaskan anak panah ke ufuk timur sana
Hatinya bak gada milik bima
Menggetarkan hati penggemarnya
Jiwanya seperti tombak yudhistira
Penghibur hati duka lara
Raganya bak pedang nakula
Pembasmi segala luka
Tubuhnya seperti kapak sadewa
Menyembuhkan segala luka sukma
Talang Balai, 23 Juli 2017
Karya: Diki Ramadhan
Keikhlasan menjelma di hatinya
Kesabaran yang ia lakukan
Kegigihan tiada habisnya,Dalam hidupnya
Bak nirwana dalam cahaya
Dirinya bak busur arjuna
Melepaskan anak panah ke ufuk timur sana
Hatinya bak gada milik bima
Menggetarkan hati penggemarnya
Jiwanya seperti tombak yudhistira
Penghibur hati duka lara
Raganya bak pedang nakula
Pembasmi segala luka
Tubuhnya seperti kapak sadewa
Menyembuhkan segala luka sukma
Talang Balai, 23 Juli 2017
Puisi Akrostik Merah Putih
MERAH PUTIH
Karya: Diki Ramadhan
Mentari terbit di gelap malam
Elok warnanya menggetarkan kegelapan
Rindu kasih akan kemenangan
Angan berkembang di kala hujan datang
Hujan,terima kasih kau hapuskan penjajahan
Pada saat itu asa akan kemerdekaan sedang berkobar
Untuk sang merah putih
Teruslah berkibar
Ikrar ini kan ku sampaikan pada rembulan
Hingga kau tenggelam pada pelukan awan
Talang Balai, 28 Juli 2017
Karya: Diki Ramadhan
Mentari terbit di gelap malam
Elok warnanya menggetarkan kegelapan
Rindu kasih akan kemenangan
Angan berkembang di kala hujan datang
Hujan,terima kasih kau hapuskan penjajahan
Pada saat itu asa akan kemerdekaan sedang berkobar
Untuk sang merah putih
Teruslah berkibar
Ikrar ini kan ku sampaikan pada rembulan
Hingga kau tenggelam pada pelukan awan
Talang Balai, 28 Juli 2017
Langganan:
Komentar (Atom)
